 |
Ilustrasi Transaksi COD di Depan Patung Jamu Sukoharjo (Ilustrasi / SKHCITIZEN) |
Adhitya Ramadhan - Jejak Lokal
Kamis, 25 Juni 2026 14:18 WIB
Sukoharjo, SKHCITIZEN - Bagi siapa saja yang melintasi kawasan Bulakrejo, Kabupaten Sukoharjo, pandangan mata tentu akan tertuju pada sebuah monumen ikonik: Patung Jamu Gendong dan Patung Pak Tani. Berdiri megah dengan ketinggian mencapai 8 meter, patung berbahan beton ini bukan sekadar penghias jalan, melainkan simbol identitas yang sangat kuat bagi masyarakat Sukoharjo.
Sejarah dan Filosofi di Balik Patung
Patung ini dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo pada tahun 1997. Ide dasarnya dicetuskan oleh salah satu tokoh masyarakat setempat, Haryanto, yang memiliki kecintaan mendalam terhadap jamu tradisional. Beliau khawatir jika tradisi warisan leluhur ini akan luntur dimakan zaman. Melibatkan seniman profesional dari Yogyakarta, proses pembangunan patung ini memakan waktu hingga dua tahun.
Secara filosofis, patung perempuan yang menggendong jamu menggambarkan peran krusial kaum perempuan dalam menjaga tradisi kesehatan Nusantara. Perempuan dalam budaya Jawa sering kali disimbolkan dengan kelembutan, kesabaran, dan kebijaksanaan—nilai-nilai yang juga tercermin dalam ketelatenan meracik jamu. Sementara itu, sosok Pak Tani yang mendampingi melambangkan kesuburan tanah Sukoharjo serta melimpahnya kekayaan hasil bumi, seperti jahe, kunyit, dan kencur, yang menjadi bahan baku utama jamu.
Sukoharjo: Sang Kabupaten Jamu
Identitas Sukoharjo sebagai "Kabupaten Jamu" bukanlah julukan sembarangan. Sukoharjo merupakan satu-satunya daerah yang memiliki Pasar Jamu Nguter. Berdasarkan data tahun 2021, terdapat sedikitnya 2.513 UMKM jamu yang tersebar di seluruh wilayah. Keseriusan pemerintah dalam melestarikan kearifan lokal ini pun diwujudkan melalui kebijakan Bupati Etik Suryani yang mewajibkan aparatur sipil negara untuk mengonsumsi jamu setiap hari Jumat.
Jejak sejarah jamu di tanah Jawa sendiri sangat panjang, bahkan sudah ada sebelum Dinasti Syailendra membangun Candi Borobudur. Tradisi ini terus dipelihara secara turun-temurun oleh masyarakat Nguter yang gigih menjaga warisan leluhur hingga ke generasi cucu.
Menjadi Spot Favorit Untuk COD
Menariknya, kawasan Patung Jamu ini kini memiliki fungsi sosial baru bagi warga lokal. Selain menjadi penanda selamat datang bagi pendatang, area ini telah menjadi **spot favorit bagi warga Sukoharjo dan sekitarnya untuk melakukan transaksi Cash on Delivery (COD). Lokasinya yang strategis, mudah ditemukan, dan menjadi ikon pusat kota menjadikan area patung sebagai tempat pertemuan yang aman dan nyaman bagi para pembeli serta penjual daring.
Patung Jamu Sukoharjo kini telah bertransformasi menjadi sebuah monumen multifungsi. Ia tidak hanya berdiri tegak sebagai pengingat sejarah dan kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian hidup dari interaksi modern masyarakat Sukoharjo hari ini. Mari kita terus bangga dan melestarikan warisan jamu sebagai jati diri bangsa.
Apresiasi Ke Penulis